23.000 Warga Banyuwangi Suspek TBC, Risiko Penularan Masih Tingg
Sebanyak 23.000 warga di Banyuwangi teridentifikasi sebagai suspek tuberkulosis (TBC), menandakan masih tingginya risiko penularan penyakit ini.
Sebanyak 23.000 warga di Kabupaten Banyuwangi tercatat sebagai suspek tuberkulosis (TBC) dengan risiko penularan tinggi, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi. Kondisi ini menegaskan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr. Widji Lestariono, mengatakan peningkatan angka suspek TBC menunjukkan upaya deteksi dini yang semakin masif di daerahnya.
âKami menemukan lebih banyak kasus karena pemeriksaan aktif di lapangan. Tapi ini hal positif, karena pasien bisa segera diobati dan tidak menularkan ke lingkungan sekitar,â ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Menurut dr. Achmad Yurianto, Ketua Tim Program Penanggulangan TBC Nasional Kementerian Kesehatan RI, risiko penularan tinggi terjadi ketika penderita TBC aktif tidak segera mendapatkan pengobatan dan tetap beraktivitas di lingkungan padat penduduk.
âTBC menular lewat udara, terutama dari droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Satu pasien TBC aktif bisa menularkan ke 10â15 orang setiap tahun,â jelasnya dalam keterangan resmi Kemenkes di Jakarta.
Ia menambahkan, penularan lebih cepat terjadi di ruangan tertutup, lembap, dan tanpa ventilasi baik, seperti rumah padat penghuni atau transportasi umum. Karena itu, deteksi dini dan pengobatan rutin hingga tuntas menjadi kunci utama memutus rantai penularan.
Berdasarkan panduan World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, gejala awal TBC yang perlu diwaspadai antara lain:
- Batuk terus-menerus selama lebih dari dua minggu.
- Berat badan turun tanpa sebab jelas.
- Demam ringan berkepanjangan.
- Berkeringat di malam hari.
- Nafsu makan menurun dan mudah lelah.
Jika gejala tersebut muncul, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit agar bisa mendapat pemeriksaan dahak dan pengobatan gratis melalui program TBC nasional.
Menurut data WHO, Indonesia masih menempati peringkat kedua kasus TBC tertinggi di dunia setelah India, dengan estimasi lebih dari 800.000 kasus baru setiap tahun.
Kementerian Kesehatan kini memperkuat program TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh) bersama pemerintah daerah, termasuk Banyuwangi. Upaya ini menargetkan Indonesia bebas TBC pada 2030.
âKami terus dorong masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri dan tidak menstigma penderita. TBC bisa disembuhkan, asalkan disiplin menjalani pengobatan,â tambah dr. Widji.





